Loading...

12 September 2013

Cerita Malin KUndang Versi Indonesia & Versi INggris

                                          Versi Indonesia
       
Malin Kundang adalah kaba yang berasal dari provinsi Sumatera Barat, Indonesia.Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu. Sebentuk batu di pantai Air Manis, Padang, konon merupakan sisa-sisa kapal Malin Kundang.
Di suatu tempat, tinggalah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Kehidupan mereka sangat memperihatinkan, penuh dengan kesulitan dan jauh dari kata mapan. melihat kondisi kehidupan keluarga yang serba sulit ini, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas, berharap akan bisa merubah nasib kehidupan keluarganya. Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug kecil mereka. 

Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Bahkan kabar keberadaannya pun sudah tidak terdengar lagi. Sang ibu hanya bisa pasrah menerima kenyataan bahwa sang suami sudah tidak ada disampingnya lagi, entah beada dimana dia sekarang. 

Hari-harinya kini dilalui berdua, ibunya yang harus menggantikan posisi ayah Malin sebagai tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah. Semua pekerjaan seberat apapun selama itu halal, dikerjakan sang ibu demi menghidupi anak semata wayangnya malin kundang.

Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang. 

Setelah beranjak remaja, Malin sudah mulai berfikir tentang kehidupan keluarganya, Malin merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk mengidupi dan membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya dan bisa membalas jasa ibunya, membahagiakan dan membanggakan keluarganya. 

Saat Malin berada di pantai, Malin memperhatikan seorang nahkoda yang tidak lain adalah tetangganya, malin melihat bagaimana nahkoda tersebut menjadi orang kaya dan hidup dengan kesenangan. Malin dengan ragu mendekat dan bertanya seputar keberhasilannya. Dan sang nahkoda pun menceritakan bagaimana kisah hidupnya di mulai. Malin sangat tertarik dan ingin seperti nahkoda tersebut. Nahkoda pun menawarkan malin untuk ikut berlayar dengannya. Malin tertarik dengan ajakan nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin pun pulang hendak mengutarakan niatnya kepada sang ibu.

Malam hari Malin mulai berbincang dengan ibunya. dalam perbincangannya Malin pun mengutarakan niatnya. Saat Malin mengutarakan niatnya kepada sang ibu, dengan serta merta ibunya kebaratan, karena malin adalah anak satu-satunya dan harta paling berharga dalam hidupnya. namun karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. 

Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. 

"Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak", ujar sang ibu sambil berlinang air mata. 

Kapalpun mulai berlayar dan semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin yang terus terisak sedih karna ditinggal anaknya. Kini sang ibu hidup hanya sebatangkara. Hanya harapan yang kini dia miliki untuk bertahan hidup, harapan untuk bertemu kembali dengan anak kesayangannya kelak.

Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. 

Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu. Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. 

Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. 

Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Di sanalah malin mulai merintis kehidupannya. Bertahun-tahun malin bekerja keras, siang malam, hingga akhirnya, dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin berhasil menjadi seorang yang sukses dan kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang.

Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya. Gadis tersebut adalah anak dari seorang saudagar kaya raya, Malin pun mendapatkan restu dari ayah si gadis dan dinikahkan.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya. 

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Sampai akhirnya kapal malin berlabuh di sebuah dermaga yang mana dermaga itu adalah tidak lain tempat dimana malin kecil sering bermain.

Saat kapal Malin berlabuh di dermaga, salah seorang penduduk yang merupakan kerabat dekat malin melihat dan mengenali malin. maka dengan tergesa-gesa orang tersebut berlari menuju tempat dimana Ibu Malin Kundang berada, langsung sang ibu di kabarkan dan saat itu juga sang ibu langsung bergegas menuju dermaga. 

Sang ibu melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya. Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. 

"Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. 

 Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. 

"Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. 

Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. 

"Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. 

"Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. 

Malin kundang pun memerintahkan kepada awak kapal nya untuk kembali naik dan berlayar kembali meninggalkan dermaga.

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". 

Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Menyadari keadaannya kini Malin sadar dan menyesali atas kesalahannya kepada sang ibu, malin serasa ingin berteriak memohon ampun pada sang ibu, namun semuanya sudah terlambat, dia hanya bisa menangis dan meneteskan air mata penyesalan dalam kebekuannya.

                                       VErsi INggris       

                             Once upon a time, on the north coast of Sumatra lived a poor woman and his son. The boy was called Malin Kundang. They didn’t earn much as fishing was their only source of income. Malin Kundang grew up as a skillful young boy. He always helps his mother to earn some money. However, as they were only fisherman’s helper, they still lived in poverty. “Mother, what if I sail overseas?” asked Malin Kundang one day to his mother. Her mother didn’t agree but Malin Kundang had made up his mind. “Mother, if I stay here, I’ll always be a poor man. I want to be a successful person,” urged Malin kundang. His mother wiped her tears, “If you really want to go, I can’t stop you. I could only pray to God for you to gain success in life,” said his mother wisely. “But, promise me, you’ll come home.”
In the next morning, Malin Kundang was ready to go. Three days ago, he met one of the successful ship’s crew. Malin was offered to join him. “Take a good care of yourself, son,” said Malin Kundang’s mother as she gave him some food supplies. “Yes, Mother,” Malin Kundang said. “You too have to take a good care of yourself. I’ll keep in touch with you,” he continued before kissing his mother’s hand. Before Malin stepped onto the ship, Malin’s mother hugged him tight as if she didn’t want to let him go.
It had been three months since Malin Kundang left his mother. As his mother had predicted before, he hadn’t contacted her yet. Every morning, she stood on the pier. She wished to see the ship that brought Malin kundang home. Every day and night, she prayed to the God for her son’s safety. There was so much prayer that had been said due to her deep love for Malin Kundang. Even though it’s been a year she had not heard any news from Malin Kundang, she kept waiting and praying for him.
After several years waiting without any news, Malin Kundang’s mother was suddenly surprised by the arrival of a big ship in the pier where she usually stood to wait for her son. When the ship finally pulled over, Malin Kundang’s mother saw a man who looked wealthy stepping down a ladder along with a beautiful woman. She could not be wrong. Her blurry eyes still easily recognized him. The man was Malin Kundang, her son.
Malin Kundang’s mother quickly went to see her beloved son. “Malin, you’re back, son!” said Malin Kundang’s mother and without hesitation, she came running to hug Malin Kundang, “I miss you so much.” But, Malin Kundang didn’t show any respond. He was ashamed to admit his own mother in front of his beautiful wife. “You’re not my Mother. I don’t know you. My mother would never wear such ragged and ugly clothes,” said Malin Kundang as he release his mother embrace.
Malin Kundang’s mother take a step back, “Malin…You don’t recognize me? I’m your mother!” she said sadly. Malin Kundang’s face was as cold as ice. “Guard, take this old women out of here,” Malin Kundang ordered his bodyguard. “Give her some money so she won’t disturb me again!” Malin Kundang’s mother cried as she was dragged by the bodyguard, ”Malin… my son. Why do you treat your own mother like this?”
Malin Kundang ignored his mother and ordered the ship crews to set sail. Malin Kundang’s mother sat alone in the pier. Her heart was so hurt, she cried and cried. “Dear God, if he isn’t my son, please let him have a save journey. But if he is, I cursed him to become a stone,” she prayed to the God.
In the quiet sea, suddenly the wind blew so hard and a thunderstorm came. Malin Kundang’s huge ship was wrecked. He was thrown by the wave out of his ship, and fell on a small island. Suddenly, his whole body turned into stone. He was punished for not admitting his own mother.